24 April 2013, 13.30 WIB
My Little POMPOM Has Gone: Because of FUS
My Little POMPOM Has Gone: Because of FUS
I. Definisi Feline Urinary Syncdrome (FUS)
Feline urinary syndrome atau FUS
adalah nama yang diberikan kepada sekelompok gejala yang terjadi pada kucing
sekunder peradangan, iritasi, dan / atau gangguan pada saluran urinary bagian
bawah (kandung kemih, uretra, dan uretra penis) (Anonim,
2010). Sindrom yang terjadi pada kucing ini ditandai dengan
pembentukan kristal (paling sering struvite) di dalam VU. Kristal tersebut
kemudian akan menyebabkan inflamasi, perdarahan pada urin, kesulitan buang air
kecil, serta beberapa kasus dapat menyebabkan obstruksi aliran normal urin keluar
dari VU yang dapat menyebabkan kematian (Pinney, 2009).
Menurut
Houston (2007) Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD)
atau Feline Urologic Syndrome (FUS) mengacu pada gangguan
saluran urinary bagian bawah, bersifat heterogen yang terkarakterisasi dengan
gejala klinis seperti hematuria (makroskopik dan mikroskopik), disuria,
stanguria, polakiuria, uriansi yang tidak normal sampai obstruksi parsial mau
pun total.
II. Batasan
Menurut
Houstler et al,. (2005) pada dasarnya FUS disebabkan oleh : 1) Feline
Idiopathic/Interstitial Cystitis(FIC), 2) Feline Urolithiasis (FU), dan
3) Sebab lainnya, seperti infeksi saluran urianri karena bakteri, malformasi
anatomi, neoplasia dan ganggaun neurologic. Sejalan dengan laporan berbagai
kasus yang ditemukan, kebanyakan penyebab FUS adalah FIC (55-69%) dan FU
(13-28%) (Houstler et al., 2005; Houston, 2007). Pada anjing
kira-kira 70% kasus urolitiasis disebabkan karena bakteri yang memproduksi
urease seperti Staphylococci dan Proteus spp.(Stevenson
dan Smith, 2002), tetapi pada kucing kira-kira 70% kasus urolitiasis steril
terhadap bakteri (Marks, 2000).
Houstler et
al., (2005), membuat konsep baru klasifikasi FUS, yaitu obstruktif dan
nonobstruktif uropati. Obstrukstif uropati sangat jarang pada kucing betina
namun umum ditemukan pada kucing jantan. Tipe obstruktif menyebabkan postrenal
azotemia yang sangat berbahaya bagi kucing. Resiko kejadian FUS meningkat pada
kucing dewasa berumur 2-6 tahun namun jarang pada umur kurang dari 1 tahun atau
diatas 10 tahun, kucing yang menderita obesitas, diberi pakan kering,
diakandangkan secara indoor dan kurang minum.
III. Mekanisme Terjadinya FUS
Kucing
yang diberi pakan kering secara terus-menerus akan meningkatkan terjadinya
penyerapan Mg dan mineral-mineral lainnya. Pada pakan kering terkandung ion-ion
MgO2 dan MgSO4 yang bersifat basa. Urine yang bersifat basa akan membuat ion
Mg, phospat, dan amonium akan mengkristal membentuk kristal struvit. Kristal
ini yang akan menyebabkan obstruksi vesica urinaria dan kelukaan pada uretra
dan ureter. Hal tersebut dapat menyebabkan keradangan pada vesica urinaria
sehingga membengkak. obstruksi akibat kristal menyebabkan kucing mengalami
disuria hingga hematuria. Obstruksi tersebut juga menyebabkan edema pada uretra
dan vesica urinaria (Nelson, 2003).
Pembentukan
urolith akibat asam urat disebabkan oleh penurunan metabolisme hepar terhadap
asam urat yang juga disertai penurunan reabsorbsi tubulus proksimalis terhadap
asam urat. Hal tersebut akan meningkatkan kadar asam urat dan natrium urat
dalam urine yang menyebabkan penurunan pH urine atau keasaman. Pakan yang
mengandung banyak protein akan menyebabkan banyaknya akumulasi amonium sehingga
bersama dengan asam urat akan membentuk kristal amonium urat (Nelson, 2003).
Infeksi
bakteri dapat meningkatkan pembentukan struvite urolit karena bakteri yang
menginfeksi memproduksi urease sehingga akan meningkatkan pH urin menjadi basa.
Urease merupakan enzim yang dalam keberadaannya di air akan menghidrolisis urea
dan menghasilkan ion ammonia dan karbonat sehingga konsentrasi kedua ion
tersebut meningkat. Ammonia bergabung dengan air atau ion hidrogen untuk
membentuk ion ammonium. Ion ammonium di urin akan menyebabkan pH urin yang
tinggi. Ketika pH urin basa, fosfat menjadi lebih tersedia untuk pembentukan
kristal struvite dan struvite menjadi kurang larut. Selain itu, pH urin yang
tinggi akan menurunkan solubilitas magnesium ammonium fosfat dan meningkatkan
terbentuknya presipitasi kristal struvite. Ketika konsentrasi fosfat, magnesium,
dan ammonium meningkat di urin, supersaturasi terjadi dan membentuk kristal dan
urolit (Fossum, 2002).
Lebih
dari 95% anjing dengan struvite urolit ada kaitannya dengan urinary tract
infection akibat bakteri yang menghasilkan urease, seperti Staphylococus spp.,
Proteus spp, dll (tiley & Smith, 2000). Urinary tract infection akibat
bakteri penghasil urease mendahului perkembangan terbentuknya struvite urolit
pada anjing. Namun struvite urolit pada kucing biasanya terbentuk dalam
urin yang steril, tanpa adanya infeksi bakteri. Hal ini dikarenakan pH urin
kucing lebih basa daripada anjing yaitu >6,5 sehingga struvite urolit mudah
terbentuk. Telah diperkirakan bahwa urin dengan pH sekitar 6,4 sama dengan
solubility product dari struvite dan urin dengan pH 7 sama dengan formation
product dari struvite (Fossum, 2002).
IV. Faktor Pemicu Terjadinya FUS
Beberapa
faktor berkontribusi untuk penyakit ini termasuk infeksi bacterial dan viral,
trauma, adanya kristal di urine, batu di vesica urine, tumor pada saluran
urinaria, dan abnormiltas congenital. Factor yang berkontribusi terhadap
perkembangan FUS antara lain, (Carlson, 2008) :
- FULTD dapat disebabkan uretra yang tersumbat oleh
semacam pasta, komposisi material batu atau pasir dan kristal struvite
(magnesium ammonium fosfat), yang berhubungan dengan jumlah garam.
Meskipun Kristal struvit merupakan penyebab utama sumbatan, namun jenis
Kristal lain dapat ditemui. Beberapa sumbatan menyebabkan terbentuknya
mucus, darah, dan sel darah putih.
- FLUTD dapat dihubungkan dengan kristal-uroith atau batu
yang ditemukan di saluran urinaria. Tipe urolith ervariasi, tergantung
dari diet dan factor pH urine. Dua tipe yang sangat sering ditemukan
adalah struvite (magnesium fosfat) dan kalsium oksalat. Factor yang
mempengaruhi pembentukan urolit pada kucing termasuk infeksi bakteri yang
bersamaan; jarang uric,nasi akibat litter box yang kotor; kurangnya
aktifitas fisik; dan kurang minum atau kualitas minum yang buruk atau
tidak tersedianya air, dan bias juga karena selalu diberi pakan
kering (dryfood).
- Urine kucing normalnya sedikit asam. Factor yang
menyebabkan urin alkalis yaitu jenis pakan, adanya bakteri di saluran
urinaria. Urin yang bersifat asam memiliki property antibacterial. Namun
ada beberpa kasus dumana FUS memiliki urine yang asam. Kucing tersebut
mungkin menderita akibat yrolith kalsium oksalat. Jika urolith terjadi di
urethra, maka obstruksi dapat mengancam kehidupan karena sangat sulit
disembuhkan.
- Cystitis bacterial dan urethritis (radang pada urethra)
juga dapat menjadi penyebab dasar FUS. Cystitis bacterial mungkin dapat
menjadi penyebab yang penting dari serangan yang berulang. Infeksi bakteri
tersebut memiliki potensi untuk peningkatan infeksi dengan sumbatan.
Infeksi berulang dapat menyebabkan resistensi antibiotik.
- Intake diet dan air minum. Kucing yang memakan pakan
kering akan mendapat sedikit air dari pakan ereka, selain itu didukung
pula dengan kurangnya minum. Pakan kering akan menyebabkan urin lebih
terkonsentrasi dan jumlah sedimen yang lebih besar.
V. Faktor Predisposisi Pembentuk Urolit Traktus Urinarus
- pH urin. pH urin berperan sangat penting dalam
pembentukan kalkuli, beberapa garam (oksalat), dan asam urat lebih mudah
mengendap pada pH asam. Struvit dan karbonat lebih mudah mengendap pada pH
alkalin.
- Infeksi bakteri. Koloni bakteri, pengelupasan
epitel, atau leukosit dapat berperan penting sebagai nidus untuk
pengendapan unsur mineral urolit. Urolit yang unsur penyusunnya terdiri
dari magnesium ammonium fosfat terbentuk karena adanya infeksi bakteri
penghasil urease atau pemecah urea (proteus dan beberapa staphilococci)
yang mengkonversi urea menjadi amoniak .infeksi dalam traktus urinarius
merupakan faktor terbesar penyebab terbentuknya urolit struvit. Jenis
urolit lain kadang-kadang juga dapat ditemui pada traktus yang terinfeksi,
namun terbentuknya urolit non struvit tersebut tidak disebabkan oleh
adanya infeksi tetapi justru infeksi disebabkan adanya urolit dalam
traktus urinarius.
- Diet. Diet yang mengandung protein tinggi
membantu pembentukan urolit struvit karena konsumsi protein tinggi dapat
meningkatkan konsentrasi urea dan NH4 dalam urin. Diet yang mengandung
oksalat, defisiensi vitamin A (karena menyebabkan perubahan metaplastik
epitel transisional), dan dehidrasi (akibat pemasukan air yang terbatas
sehingga memberi kesempatan unsur mineral tetap berada dalam urin yang
konsentrasinya sangat jenuh) adalah faktor yang dapat menyebabkan
urolitiasis. Konsentrasi urin yang sangat jenuh tersebut umumnya
disebabkan bekurangnya jumlah air yang diminum (kurang minum). Memperbanyak
minum air (meskipun air yang diminum mengandung fosfat, karbonat,
silicate, kalsium, dan magnesium dalam jumlah tinggi) umunya hanya sedikit
berpengaruh atau bahkan tidak berpengaruh terhadap urolitiasis.Hal ini
disebakan karena kandungan mineral dalam air minum lebih sedikit dibanding
dengan jumlah mineral yang berasal dari pakan.Di samping itu dengan
memperbanyak minum juga dapat menurunkan konsentrasi urin dan meningkatkan
volume urin. Hal yang demikian tidak terjadi jika mineral yang menjadi
unsur pembentuk urolit dikonsumsi dalam bentuk makanan.Mineral dalam pakan
dapat menjadi faktor penyebab urolitiasis pada domba yang diberi paka
fosfat tinggi, atau mengandung okasalat.
- Herediter. Urolit kebanyakan ditemukan pada Kucing
Persian.
- Urin stasis. Merupakan faktor predisposisi
pembentukan urolit tanpa memperhatikan macam mineral. Turunnya frekuensi
urinasi dan meningkatnya kadar unsur pembentuk urolit dalam urin dapat
menyebabkan konsentrasi urin menjadi sangat jenuh. Urin yang sangat jenuh
dapat menjadi predisposisi presipitasi unsur mineral pada hewan.
- Breed predileksi.
- Sex predileksi. Lebih sering terjadi pada hewan
jantan karena diameter uretra nya lebih sempit dan lebih
panjang. (Nelson, 2003).
VI. Diagnosa
Diagnosis
dapat dilakukan dengan (Gerber, 2009) :
- Pemeriksaan gejala klinis.
- Pemeriksaan laboratorium.
- Urinalysis.
Penting
untuk dilakukan dan urin dikoleksi sebelum terapi dilakukan. Terapi dapat
mempengaruhi hasil urinalysis. Idealnya urin dikoleksi melalui cystocentesis.
Urinalysis meliputi pengukuran berat jenis, dip-stick analysis, analisis
sedimen dan kultur urin.
Urinalisis
adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis
infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis
penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan
tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Urinalisis dapat diguakan untuk mendeteksi adanya penyakit diabetes, penyakit
ginjal, serta infeksi dari traktus urinarius.
VII. Jenis-jenis Urinalisis Yang Dapat Dipergunakan :
A. Pemeriksaan visual
turbiditas
dan warna dari urin. Warna urin normal adalah kuning bening, sedangkan urin
yang tidak normal berwarna merah karena darah dan keruh. Volume urine normal
adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada pengambilan acak (random)
tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka
selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat. Kelainan pada warna,
kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi,
dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau
eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu juga dapat mengubah warna urin.
Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin
(proteinuria).
Beberapa
keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :
- Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin,
porfobilinogen, porfirin. Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan
zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.
- Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab
nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain
termasuk fenotiazin.
- Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat,
bilirubin, urobilin. Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara,
nitrofurantoin.
- Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri
(terutama Pseudomonas). Penyebab nonpatologik : preparat vitamin, obat
psikoaktif, diuretik.
- Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat :
diuretik, nitrofuran.
- Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin,
pigmen empedu. Pengaruh obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.
- Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik :
melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen, methemoglobin.
Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.
B. Spesific Gravity
Tes ini berfungsi untuk mendeteksi seberapa baik ginjal
dapat mengkonsentrasikan urin dan jumlah dari substansi/zat-zat yang terdapat
pada urin. Tes ini mengukur berat dari urin dibandingkan dengan air biasa pada
jumlah yang sama. Semakin tinggi nilai urin specific gravity ini, maka semakin
padat material yang terdapat pada urin.
C. Dipstick Analysis
Strip test kimiawi yang mengecek ada tidaknya glukosa,
protein, bilirubin dan keton di dalam urin.
- Sel darah putih (pyuria) : normalnya sel darah putih
tidak terdapat di dalam urin. Adanya sel darah putih di dalam urin dapat
menandakan adanaya infeksi saluran perkencingan, gangguan ginjal, dan
kanker.
- Sel darah merah (hematuria) : sama seperti sel darah
putih, seharusnya sel darah merah tidak terdapat di dalam urin. Adanya sel
darah merah ini dapat menandakan adanya peradangan, penyakit, serta
cedera/luka pada ureter, vesica urinaria, atau urethra.
- Protein (Proteinuria) : protein normalnya tidak
ditemukan di dalam urin. Hasil tes ini harus disesuaikan dengan tes
specific gravity. Protein pada urin yang encer lebih banyak daripada
protein pada urin yang pekat. Beberapa hal yang menyebabkan protein ada
pada urin adalah peradangan, hemoraghi, atau gangguan ginjal.
- Glukosa (glukosuria) : glukosa merupakan jenis gula
yang biasanya ditemukan pada darah. Seharusnya tidak ada glukosa dalam
darah. Hal yang sering menyebabkan glukosa pada urin adalah diabetes.
- Bilirubin (bilirubinemia) : bilirubin adalah pigment
oranye dari empedu dari hati. Keberadaan bilirubin pada urin
mengindikasikan adanya penyakit hati atau hemolisis (hancurnya sel darah
merah), gangguan ginjal, Feline Hepatic Lipidosis dan FIP.
- Keton : tidak ada keton pada urin kucing yang normal.
Keton dihasilkan ketika lemak, yang lebih dipergunakan daripada glukosa,
dipecah oleh tubuh untuk menghasilkan energy. Jumlah besar keton dalam
urin mengindikasikan diabetes ketoacidosis atau kekurangan gula /
malnutrisi.
- pH urin : merupakan pengukuran dari tingkat keasaman
dari urin, apakah alkalis / asam. pH normal urin sekitar 6 – 7. Tingkat
keasaman ini dapat tergantung dari jenis pakan, obat, dan adanya penyakit.
Kucing biasanya memiliki pH yang sedikit asam.
D. Pemeriksaan mikroskopik
Sebuah
sampel urin disentrifugasi dan sedimentasinya diperiksa dibawah mikroskop untuk
melihat adanya crystal, sel darah merah, sel darah putih, benda padat berongga,
bakteri dan yeast (jamur).
- Sel darah putih (pyuria) : normalnya sel darah putih
tidak terdapat di dalam urin. Adanya sel darah putih di dalam urin dapat
menandakan adanaya infeksi saluran perkencingan, gangguan ginjal, dan
kanker.
- Sel darah merah (hematuria) : sama seperti sel darah
putih, seharusnya sel darah merah tidak terdapat di dalam urin. Adanya sel
darah merah ini dapat menandakan adanya peradangan, penyakit, serta
cedera/luka pada ureter, vesica urinaria, atau urethra.
- Cast (cylindruria) : bentukan silinder ini dibentuk ole
mucoprotein yang terdapat pada tubulus renalis (tabung kecil di dalam
ginjal). Benda ini dapat dibentuk dari berbagai macam material termasuk
sel darah merah, sel darah putih, substansi lemak, sel epitel tubulus
renalis atau oleh protein. Bentukan ini dapat memberikan informasi
mengenai jenis penyakit yang sedang diderita oleh hewan.
- Crystal (crystaluria) : beberapa tipe crystal mungkin
dapat ditemukan pada urin. Crystal yang paling sering ditemukan adalah
struvite dan kalsium oksalat. Keberadaan crystal ini pada urin bukan
merupakan diagnosis pasti dari sebuah urolithiasis. Beberapa jenis
tertentu dapat menjadi petunjuk penting dalam diagnosa sebuah penyakit.
- Bakteri : jika sebuah sampel urin yang steril ditemukan
bakteri, hal ini dapat menunjukkan adanya infeksi vesica urinaria.
E. Radiografi
Pada radiografi densitas batu bisa dilihat, meliputi ukuran
dan bentuk di vesica urinaria.
F. Ultrasonografi
Ultrasonografi
untuk melihat dinding vesica urinary dan kandungan dalam vesica urinary.
VIII. Penanganan dan Pencegahan
A. Penanganan
- Kateterisasi : Ukuran kateter yang biasa digunakan
untuk kucing jantan adalah 3 1/2 Fr. Terdapat tiga macam kateter urin
yaitu flexible rubber feeding tube, kateter open-ended
polypropylene, dan close-ended polypropylene.
- Pengosongan urin dalam vesica urinaria dengan cara
menusukkan jarum suntik ke vesica urinaria dan mengosongkan urin di
dalamnya (dalam keadaan darurat).
- Operasi (cystotomi).
- Flushing saluran kencing.
- Penyuntikan cairan fisiologis intravena :
untuk mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH cairan
tubuh (Infus Ringer Lactate).
- Pemberian antibiotik : untuk mencegah infeksi
sekunder oleh bakteri (Amcilin).
- Obat parasimpatomimetik : untuk menstimulasi
otot VU kontraksi dan relaksasi.
(Anonim,
2010 ; Duval 2002)
B. Pencegahan
- Diet, hewan diberi pakan moisten dry food atau
menggantinya dengan pakan kaleng/ pakan basah.
- Mengurangi jumlah pakan yang mengandung magnesium.
- Meningkatkan jumlah air minum.
A.W

Tidak ada komentar:
Posting Komentar